Tampilkan postingan dengan label Bualan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bualan. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 April 2017

Mengeja Raden Mandasia

twitter Penerbit Banana



Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi adalah salah satu hal terbaik di kehidupan saya yang 2017 ini lebih sering biasa saja tanpa yang hal-hal yang mengagumkan. Paman Yusi, paman kita semua, paman semesta raya, mendongeng dengan anjing sekali indahnya. Kamu harus menelan kepercayaan bahwa dongeng adalah nama lain pengantar tidur. Telan dengan baik, jangan sampai mati sia-sia hanya karena tersedak, tidak aduhai. Beberapa hari yang lalu saya lupa cara memejamkan mata sehingga hamba yang sholeha ini tidak bisa shalat tahajud karena keasyikan membaca dongengan Paman Yusi. Ketika sampai halaman terakhir, saya baru tersadar kalau sudah jam tiga pagi dan rendaman cucian sejak pagi sebelumnya belum saya bilas pagi ini. Oh, betapa!

Jika idola remaja masa kini, Mz Sabda Armandio, menuliskan bahwa kemungkinan besar penyebab banyak pengarang masuk neraka adalah akibat mengecewakan pembaca dengan menyajikan akhir cerita yang buruk; memaksa terus bercerita saat tiba di titik terbaik untuk menamatkannya, dan lebih buruk lagi dibuatkan sekuel meski tahu kerangka logika di cerita sebelumnya tak didesain  buat menampung cerita lanjutan, saya ingin menambahkan ‘membuat pembaca lupa mencuci baju dan beribadah’ ke daftar dosa pengarang tersebut. Tapi tak apa, Paman, lagipula surga isinya yang indah-indah, yang baik-baik, yang damai-damai, tidak ada yang bisa dituliskan.

Judulnya memang Raden Mandasia, tapi tidak perlu terlalu berharap si Raden Mandasia bakal menjadi tokoh utama dan pusat cerita. Porsi Raden Mandasia bahkan tidak lebih banyak daripada si pencerita, Sungu Lembu. Tapi tentunya dongeng tak akan berkisah sehebat ini tanpa Raden Mandasia sekonyong-konyong hadir di kehidupan Sungu Lembu. Judulnya memang ada sapi, tapi kamu bakal lebih sering disuguhkan anjing dan babi─di pembacaan yang kedua atau ketiga nanti saya berencana fokus menghitung berapa kata ‘anjing’ di novel ini. Tapi tanpa mencuri daging sapi, Sungu Lembu entah kapan bakal bertemu Watugunung dan Babad Tanah Jawa tidak dituliskan. Haha.

Di sampul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi terukir kata ‘dongeng’ karena buku ini lebih tepatnya adalah rangkaian dongeng dunia yang berkumpul jadi satu. Kamu bakal berjumpa dengan Putri Tabassum yang kecantikannya membuat cermin-cermin retak dan pecah karena tidak kuasa menampung kecantikan itu. Ingatanmu akan mengais kisah seorang nabi yang ditelan paus ketika dua orang penumpang kapal secara bergantian jatuh ke laut untuk kemudian ditelan paus. Kamu juga akan berjumpa dengan kisah Sangkuriang yang digetok kepalanya memakai centong nasi, dan kisah-kisah lain yang diciptakan sendiri oleh Paman Yusi atau yang lain yang belum kita dengar.

Dongeng ini tidak menuntutmu harus menemukan amanat atau pesan moral, saya pikir Paman Yusi bukanlah guru Bahasa Indonesia atau pendakwah ataupun Opahnya Upin Ipin yang setiap kau habis membaca sebuah kisah akan menanyakan “Jadi, apa amanat yang ingin disampaikan?”. Lalu kamu berpikir keras dan memungut apapun di kisah untuk memaksakan amanat yang terkandung. Kita tahu itu sungguh menyakitkan. Tenang saja, Paman Yusi justru mengajakmu bersenang-senang dan menikmati tiap adegan persetubuhan, titik kelezatan makanan, dan mantapnya umpatan-umpatan tokoh.

Mungkin Paman Yusi bukanlah tipe guru Bahasa Indonesia yang rajin sekali obral pesan moral, tapi bliyo dengan dongengnya ini membuat saya ingin banting setir jadi penjual tahu-bulat-digoreng-engga-dadakan-karena-biar-ndak-kaget-tahunya saja daripada tetap menjadi mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Lha gimana tidak, ada banyak kata yang harus saya cari dulu di KBBI karena tidak tahu artinya. Misal saja merancap, cindai, mandah, mengkal dan sebagainya. Belum lagi tata krama dalam penyusunan kalimat yang rapi memenuhi dongeng ini. Anjing betul, saya merasa dipermalukan.

Dengan tidak menggurui, bukan berarti Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi nirfaedah. Ada lautan pesan yang bisa kita ambil untuk direnungkan atau setidaknya membuatmu meninju kepalamu sendiri sambil berkata, “Anjing, iya juga ya?” ketika mendapati bahwa kita sebenarnya tidak saling mengenal atau bahwa kesempurnaan justru membuat kita berhenti mencari atau yang paling penting adalah bahwa semua manusia pasti buang air besar. Tapi, sekali lagi, kau tidak akan merasa dihakimi seperti ketika kamu membaca… ah kau tahulah.

Siapapun yang membaca dongeng ini pasti merasa bahagia sekaligus sebal. Jika banyak karya melulu mengusung narasi-narasi besar─yang sumpah mati membosankan itu─karena (mungkin) ingin terkesan hebat, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi tidak begitu. Kau memang akan diseret pada bagian membosankan ketika perang antara Gerbang Agung dan Gilingwesi yang seperti Mahabharata, tapi serius, peristiwa itu seperti figuran saja di sini. Penggalan-penggalan kisah yang lain lebih mengasyikkan, lebih dalam dibahas dan mendominasi dongeng ini. Misal tentang hidup Loki Tua, tentang petualangan di lautan, Kasim U, Nyai Manggis, dan lain-lain, dan lain-lain. Saya kira di situlah salah satu kelebihannya. Jika Lelaki Harimau ­membuka dengan kalimat pertama bahwa Margio telah membunuh Anwar Sadat lalu setelahnya adalah penelusuran motif pembunuhan dan bangsatnya kita baru akan tahu motifnya di akhir cerita, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi menceritakan panjang lebar tentang latar belakang dendam Sungu Lembu  hingga berkeinginan membunuh Watugunung sampai kamu ikut geregetan kapan adegan perkelahian berujung kematian Watugunung akan diceritakan dengan dahsyat, rasa geregetanmu akan berbuah sebal dengan kematian Watugunung yang hanya dituliskan dalam satu kalimat. Mengesankan.

Jika kau membaca novel-novel Eka Kurniawan, kau pasti akrab dengan cerita kolosal mengusung kearifan lokal yang dikemas dengan apik, dan Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi merupakan dongeng kontemporer berlatar kolosal  yang saya pikir hampir sejenis. Luhur. Kisah semacam ini tidak banyak dilahirkan pada era sekarang dan rentan diabaikan, tapi pembawaan kisah yang baik saya jamin tidak membuatmu bosan berlama-lama menekuninya. Masih banyak yang menarik, tidak akan menarik jika saya ceritakan semua, jadi baca sendiri saja. Saya sudah cukup menyesal karena baru membacanya akhir-akhir ini setelah ada cetakan kedua, jadi sebaiknya kamu menemani saya.

Selepas menutup sampul belakang, kamu akan tahu betapa kenikmatan surgawi telah dititipkan Tuhan ke buku ini.

Tabik untuk Paman Yusi Avianto Pareanom, saya jadi penasaran dengan rasa daging babi. Teman-teman tolong jebak saya makan daging babi dengan mengatakan bahwa itu daging sapi halal ketika menawarkannya. Nanti saya tak pura-pura tidak tahu. Ayolaaa~


Senin, 27 Maret 2017

Semacam Obrolan yang Melelahkan



“Bang…”

“Ya?”

“Besok hari Kamis.”

“Memang.”

“Hmm. Lusa Jumat.”

“Kamu kenapa?”

“Bunganya bagus.”

“Mana?”

“Turun mana, Bang?”

“Kita tidak sedang di bis atau kereta.”

“Iya. Jadi, apakah harimu menyenangkan?”

“Biasa.”

“Bosan?”

“Lumayan.”

“Mari bercerita.”

“Kemarin saya pergi menonton konser sendirian. Di kerumunan penonton, seorang perempuan tiba-tiba mendesak dari belakang lalu berdiri di sebelah saya..”

“Sebelah mana?”

“Samping kanan. Saya pengen kenalan, tapi tidak tahu harus bagaimana. Tiap kali yang begitu terjadi, saya merasa patah hati.”

“Lalu apa gunanya puisi-puisimu? Kamu bilang kamu juga humoris.”

“Itu beda soal. Saya yakin saya orang yang cukup menyenangkan dalam berteman, tapi awal perkenalan itu lebih berat. Takut dikira aneh.”

“Kamu kan memang aneh.”

“Iya. Menjadi aneh memang lebih mudah daripada dianggap aneh.”

“Bilang saja begini, “Langitnya mendung. Sepertinya perlu sedia payung. Menurutmu gimana?” atau, “Mbak, satu tambah satu kira-kira berapa?”. Semacam itu.”

“Kebetulan tidak sedang mendung, Mbaknya bakal sedih, kasihan. Saya berpikir untuk bilang, “Maaf, Mbak, saya punya firasat kita bakal ketemu lagi di lain waktu. Boleh saya tahu nama Mbak atau apalah agar lebih mudah menyapa nanti.”

“Itu bagus.”

“Oh, ya? Tapi dia sudah menyelinap ke barisan depan. Lagi-lagi saya kehilangan sesuatu yang bahkan tidak saya miliki.”

“You’re Beautiful. James Blunt.”

“Iya. Betapa sia-sianya lirik lagu itu. You’re beautiful… And I don’t know what to do… ‘Cause I’ll never be with you.”

“Tidak sia-sia juga. Indah dan pedih sekaligus kan bagus.”

“Nutrisarimu mulai dingin.”

“Mana enak kalau hangat?”

“Memang.”

“Hari ini saya sedang bahagia.”

“Siapa?”

“Saya. Rasanya seperti bersin yang melegakan setelah dua puluh tahun gagal bersin. Memaafkan! Saya habis memaafkan seseorang yang beberapa minggu lalu ingin saya penggal kepalanya dengan cutter duaribuan…”

“Tigaribulimaratus di tempatku.”

“Baiklah.”

“Kenapa tidak jadi kamu penggal?”

“Kenapa Qais sampai majnun karena Laila?”

“Cinta. Saya kurang yakin kalau dengan kasusmu.”

“Semacam itu, saya sendiri juga ragu, tapi sepertinya iya, saya sayang dia. Rasanya seperti balikan sama mantan kekasih yang sangat kita rindukan tapi kita gengsi mau nyapa duluan karena terlanjur bilang benci.”

“Jadi, bersin atau balikan?”

“Haha. Terlalu bahagia, suka lupa. Seperti membuang sampah yang dibawa kemana-mana.”

“Segala yang berlebihan itu tidak baik.”

“Sudah betul itu.”

“Hujan sudah turun, ayo pulang.”

“Katanya kita bakal pulang setelah menunggu hujan?”

“Menunggu hujan turun.”

“Saya kira menunggu reda.”

“Jadi pulang tidak?”

“Kopimu belum habis. Kembung?”

“Angin masuk.”

“Mengerti. Angin dan air. Saya bertaruh untuk tanah.”

“Terserah, kamu perlu belajar lagi. Pacar saya menunggu.”




*Maaf untuk yang ucapan-ucapannya saya ambil hehehe


Rabu, 16 November 2016

Intan dan Anehnya Kemanusiaan Kita




 
Lukisan oleh Toni Malakian


 Inilah sebetulnya salah satu bentuk penistaan agama yang paling keji siapapun pelaku dan korbannya. Baru petang ini aku menggambar salah seorang anak korban meninggal karena kebiadaban itu. Agama memanusiakan manusia dan makhluk lain. (Toni Malakian)


Seperti biasa, perpustakaan kampus masih akan tutup pada pukul sepuluh malam. Malam ini, sejak ba’da maghrib, saya masih di sini, seharusnya mengerjakan tugas, mencari data, atau membaca buku. Tiga puluh menit pertama saya habiskan untuk memandang orang-orang dan mendengarkan kebisingan. Iya, jam-jam segini memang perpustakaan tidak akan sunyi. Mirip angkringan tempat biasa ngopi, tapi tidak ada kopi. Tidak perlu sampai memecahkan gelas biar ramai. Semua bersahut-sahutan, banyak kata yang tergelincir dari berpuluh-puluh lidah sampai saya tidak berhasil menangkap satu pun kalimat utuh. 

Seorang lelaki berkacamata duduk di meja seberang saya, senyum-ketawa sendiri sambil menatap layar laptop. Mungkin menertawakan video lucu, tulisan lucu, atau semacamnya. Nampak berbahagia, dengan headset di kedua telinga. Samping kiri saya adalah meja dengan banyak orang mengelilinginya. Mungkin belajar kelompok. Di arah jam dua, sepuluh mahasiswi duduk mengelilingi meja dengan lima botol air mineral dan kertas-kertas di atasnya. Dua orang belajar, dua sibuk dengan gawai, sisanya sedang mengobrol dengan riang sekali. Banyak kelompok jenis seperti mereka juga, saya taksir ada 70% di ruangan ini. Sedangkan yang sekarang sedang semeja dengan saya adalah seorang perempuan berkerudung hijau tosca dengan baju batik, saya tidak kenal, dia memilih duduk di sini karena memang tidak ada pilihan lain. Sesekali melirik saya, raut wajahnya serius, mungkin ada deadline besok pagi dan pandangan jelalatan saya agak mengganggunya.

Di Samarinda, Minggu (12/11/2016) pagi, seorang yang disebut sebagai ‘jihadis’ melemparkan bom molotov ke arah gereja sekenanya. Seorang gadis kecil meninggal beberapa hari yang lalu. Intan Olivia. Empat terluka, hingga Intan tak mampu lagi bertahan. Terbakar, sampai-sampai bajunya lengket dengan kulit. Intan pergi ke surga di usia yang sedang lucu-lucunya. Dunia sepeninggalnya masihlah dunia yang berisik dan mengerikan. Tentu masih ada yang membantu dan berduka. Tapi sayangnya juga tetap ada beberapa yang menuduh sebagai pengalihan isu atas dugaan penistaan agama oleh seorang gubernur di ibukota. Beberapa lainnya juga menganggap ini adalah sebuah konspirasi. Ya, banyak korban dan keluarga yang ditingggalkan, seorang bocah meninggal, dan yang lebih menyedihkan adalah: ada orang-orang yang tidak tersentuh relung kemanusiaannya kemudian justru mengganggap ini sebatas atraksi politis belaka. Saya belum menemukan kata ganti, bahkan asu dan bangsat pun masih terlalu mulia untuk disandangkan di atas nama mereka. 

Orang yang menyebut peristiwa pengeboman sebagai pengalihan isu dan konspirasi itu mengulang-ulang perkataan yang sama. Mempertanyakan kemana kepedulian kita ketika tragedi di Gaza, Beirut, Suriah, dll. Mengatakan lagi bahwa teroris tidak memiliki agama. Saya justru membaca pembelaan pertama sebagai upaya untuk membalik quote Mbah Stalin yang berbunyi, "a single death is a tragedy, a million deaths is a statistic”. Atau sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa kepedulian harusnya dibatasi agama dan kepentingan politik. Pembelaan yang kedua adalah ketidakberanian menemui diri sendiri. Kenyataannya, teroris memang memiliki agama. Dan bisa jadi teroris kebetulan mereka memiliki agama yang sama dengan saya, kamu, kalian. 

Penafsiran yang picik akan sebuah tragedi kemanusiaan akhirnya membuat orang-orang itu tak lagi adil sejak dalam pikiran. Lebih rumit lagi ketika ada satu, dua, atau beberapa orang di sekitar saya yang mendukung orang-orang itu. Saya selalu kesulitan dan sempat putus asa menjelaskan. Ada perasaan yang mengganggu. Dia guru saya, dia teman SMA saya, dia teman kuliah saya, dia kenalan saya. Pemikiran yang sama sekali bertentangan, lantas bertabrakan, tapi tidak kunjung berani berkelahi sekalian karena takut mengorbankan hubungan. Saya tidak ingin suatu hari hanya akan menyebut mereka sebagai mantan guru atau mantan teman.


Akhirnya kematian manusia memiliki berbagai sudut, mulai dari kematian sebagai tragedi, kematian sebagai statistik, dan kematian sebatas bagian dari atraksi politik. Lain kali mungkin kemanusiaan yang bakal menghadapi kematian.


Dan saya kembali memandang orang-orang di perpustakaan tadi. Gaduh dan sibuk sendiri. Menengok teman-teman di kantin tadi siang, pemilu di lingkungan fakultas, berisiknya grup angkatan, teman-teman yang sibuk dengan kepanitiaan hendak mengadakan suatu event, mahasiswa yang disiplin sekali dalam akademik, mereka yang bergegas, penumpang bus antar kota yang kelelahan, lalu orang-orang dalam perjalanan ke tempat kerja. Apa mereka tahu tentang Intan? Apa mereka peduli?

Saya jadi teringat film Room yang kemarin saya tonton. Mengenai cara tokoh Jack memandang dunia. Jack baru berusia lima tahun, belum pernah melihat dunia sebelumnya, empat tahun hidupnya dihabiskan di satu ruangan tempat dia dan ibunya disekap oleh penculik. Jack percaya bahwa dunianya memang sebatas empat dinding yang pengap itu dengan segala imajinasi dan dongeng yang ia yakini benar. Daun, pohon, orang-orang, mobil, hanyalah hasil sihir di televisi. Singkat cerita dia dan ibunya akhirnya bebas. Dan Jack sesekali bermonolog…

“Sudah 37 jam aku berada di dunia. Aku telah melihat panekuk dan tangga. Dan burung, dan jendela, dan ratusan mobil. Dan awan, dan polisi, dan dokter. Dan kakek, dan nenek. Aku telah melihat orang-orang dengan wajah, ukuran, dan bau berbeda… saling bicara. Dunia seperti planet TV pada saat bersamaan, jadi aku tak tahu harus melihat dan  mendengar ke mana.”

“Ada begitu banyak tempat di dunia. Tapi hanya ada sedikit waktu, karena waktu harus menyebar, ke semua tempat, seperti mentega.“

Dunia jadi terasa penuh sekaligus kosong secara bersamaan. Banyak orang berbicara dan bergegas. Mobilitas tinggi yang berimbas pada keintiman perasaan yang merendah. Saling bertemu karena memang ada kepentingan. Merencanakan sesuatu, mengejar waktu agar tidak terlambat, mengerjakan tugas, mengadakan event, membayar tagihan, dan menggadaikan hidup pada jadwal-jadwal. Pemaknaan, penghayatan, dan rasa sentimentil lebih layak ditertawakan. Dunia seperti sedang berusaha keras membuat manusia menolak kenyataan bahwa perasaan dan kemanusiaan adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya. Segalanya hanyalah rutinitas. Makan, tidur, bekerja, tertawa, kuliah, dan beribadah. Kelahiran adalah rutinitas, perayaan hanyalah formalitas. Termasuk kematian, kematian sepertinya juga dianggap sebagai rutinitas belaka. 

Betapa anehnya kemanusiaan kita. Mungkin karena memang dunia seperti banyak televisi yang menyala secara bersamaan dengan tayangan yang berbeda-beda, sehingga kita tak tahu harus melihat dan mendengar ke mana. Kemanusiaan dan kepedulian akhirnya tak tahu harus ditempatkan di mana. Sampai kita lupa bahwa dalam kematian paling sepi dan sendiri pun, tetap selalu ada gagasan tentang rasa kehilangan yang menyeruak. Dalam kehidupan yang plural, berjalan cepat, tergesa, kontras, dan penuh dengan seliweran informasi memang agak sulit meluangkan tempat untuk perenungan. Kematian, pembunuhan mungkin baru terasa menyayat ketika menimpa orang terdekat. Benar kata Mbah Pram:

"Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana."

Dunia nampaknya bakal begini-begini saja, Intan. Berbahagialah di surga, semoga tidak ada orang tidak waras yang melemparkan bom kepadamu. Bermainlah, pasti di sana ada jungkat-jungkit dan banyak ayunan. Biar Tuhan memelukmu dengan kasih sayang sepenuhnya. Titip salam untuk Tuhan, katakan padanya, maafkan kami, maafkan kami. 



Selasa, 11 Oktober 2016

Jurusan Madiun-Surabaya: Bukan Pledoi

sumber gambar: www.bookcasebasketcase.com

"Kuliah atau kerja, Mbak?"

"Kuliah, Pak."

"Widih... Jurusan apa?"

"Sastra Indonesia."

"Oh." lalu membuang muka, menatap pemandangan dari kaca jendela bus Sumber Kencono yang melaju dengan kecepatan secepat reaksi jamaah sumbu pendek menanggapi ucapan selamat natal.

Saya tidak terlalu ambil pusing dengan reaksi Bapak tersebut. Wis tau! Lha wong pernah ada yang lebih ekstrem bilang "Sastra Indonesia itu beneran jurusan kuliah? Kalau saya jurusan Madiun-Surabaya."

Kawan-kawan yang kuliah di jurusan Sastra Indonesia—selanjutnya akan saya sebut Sasindo, demi kesehatan jari saya— pasti tidak asing dengan pertanyaan maupun pernyataan bernada merendahkan. Sudah menjadi panganan pokok kedua setelah nama-nama sastrawan kanonik yang dijejalkan oleh para dosen. Ndak kagetan kalau ada yang bilang:

"Itu setelah lulus kerjanya apa?"

"Kenapa ambil Sastra? Kalau anak saya sih ngambil teknik kebidanan blablabla."

"Baca sama nulis doang?"

"Sastra itu belajar mendayu-dayu?"

"Oh, emang situ orang mana? Bahasa Indonesia kok dipelajari sampe kuliah, haha."

"Budi sama Ibu Budi apa kabar, Cuy? Masih idup?"


"Budi wis gedhe, saiki dadi berandalan, jere arepe ngobong omahmu," bentak saya, dalam batin.

Duh, Gusti, sampai kapan akan terus begini? Kami sudah cukup menderita dengan tugas merangkum buku bacaan dengan tulis tangan, yang setelah kami perjuangkan berdarah-darah dengan pulpen runcing, akhirnya hanya dilihat sekilas lalu diberi tanda tangan. Kami sudah kekenyangan dengan tugas membaca novel segedhe gaban berbahasa dewa lalu disuruh membuat resensi atau sinopsisnya. Kami sudah cukup mual dibanding-bandingkan dengan anak sastra lain semisal Sastra Inggris, Sastra Jepang, atau apalah. Katanya, "Mana ada les Bahasa Indonesia?". Kalau yang dipermasalahkan adalah mbukak kursus atau les, saya sarankan gugling, ada banyak.

Tapi, tidak mungkin saya membentak dan memaki cara berpikir orang-orang awam yang bertanya seperti itu. Senyumin sajah, nanti juga luluh. Toh, stigma yang terbentuk di masyarakat memang begitu. Universitas adalah nama lain Balai Latihan Kerja. Saintek punya prospek, Soshum ngawang-ngawang. Sastra Indonesia adalah jurusan pelengkap penderita karena tidak ada pilihan lain atau memang keterimanya cuma di situ. Kita tidak mungkin akan menanggapi dengan jawaban filosofis seputar sastra, tentang bagaimana peran sastra dalam peradaban. Terlalu berat dan tinggi, saya tidak sedang membawa kursi buat ancik-ancik.

Tapi, pada suatu hari yang awalnya cerah, saya sedang makan pecel di kantin. Lalu teman saya membisiki, sambil menunjuk ke arah meja di ujung. Katanya, itu mas-mas yang di sana, yang bajunya hitam, dia pernah apdet status kontroversial. Dalam status fesbuknya, dia menulis kurang lebih begini, "Prodi Sasindo lebih baik ditiadakan, tidak berguna! Tidak banyak bahkan sangat sedikit yang menjadi sastrawan!"

Sak kelebat cuaca jadi mendung, gelap, segelap baju masnyah. Pecel yang tadinya saya nikmati dengan perlahan dan penuh penghayatan akhirnya saya babat habis dalam sepersekian detik. Saya bisa memaklumi kalau masyarakat awam meremehkan. Lha ini, seorang kakak tingkat cum aktivis mahasiswa, je!

Ya, memang saya ini kerap menyangsikan aktivis mahasiswa zaman sekarang. Mereka paling hanya demo, berteriak "Lawan!" dan ngambek sama rektor, perkuliahan, kebijakan kampus, lahan parkir, dosen, dll. Atau kalau nggak, ya nyinyiri mahasiswa lain yang dianggap tidak progresif, militan, atau apalah itu. Ya pokoknya selingkaran itu lah yak.

Tapi yo ndak su'udzon kepada semua aktivis, saya tetap yakin ada orang-orang yang benar-benar berjuang demi kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan semua manusia. Saya yakin. Pasti ada. Dan, saya masih percaya bahwa aktivis-aktivis itu cerdas, baca banyak buku, suka diskusi, dan kritis.

Ya, sebenarnya kami saling menyangsikan, sih. Ah, mas ini bukan satu-satunya, banyak dosen, mahasiswa, maupun para intelektual juga menyangsikan prodi Sasindo. Garis besar alasan mereka adalah: Prodi Sastra Indonesia tidak menelurkan sastrawan.

Sangat disayangi, eh disayangkan. Masa orang terpelajar ndak paham, sih? Prodi Sasindo tidak sama dengan pabrik sastrawan. Lagipula, sastrawan bukanlah profesi, dia adalah predikat yang disematkan oleh orang sastra—bukan mahasiswa atau dosen sastra— berdasarkan karyanya yang bernilai sastra. Karya yang membacanya butuh refleksi mendalam. Tidak harus kuliah di Sasindo, karena sastra adalah seni memahami kehidupan. Mengutip Goenawan Mohamad, "Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita adalah proses yang minta pengerahan batin."

Prodi Sasindo tidak melulu ngubeki sastra, ada beberapa minat studi khusus yang dapat dipilih oleh mahasiswa. Linguistik, Filologi, dan Sastra. Linguistik adalah ilmu bahasa yang mempelajari bentuk bahasa, makna bahasa, dan bahasa dalam konteks. Mahasiswa yang memilih linguistik biasanya diarahkan pada kompetensi sebagai ahli bahasa atau praktisi bahasa. Filologi fokes ke pengkajian naskah lama. Nah, sastra sendiri ada dua pembagian kompetensi. Mau yang khusus berkarya sastra atawa fokus ke pengajaran bahasa dan sastra. Begonoh.

Jadi ya ndak adil kalau sarjana sasindo diharuskan jadi sastrawan. Di kampus saya aja ya, itu yang paling banyak diambil ya linguistik. Sastra menduduki posisi kedua, kemudian disusul oleh filologi yang mahasiswanya bisa dihitung pake jari. Saya juga sebel sama filologi, nilai saya menyedihkan. Hanya mahasiswa bermental baja lapis stainless steel berkemampuan warbyasah yang berani mengambilnya. Biasanya anak pondokan, karena punya bekal bahasa Arab.

Terus, sekalipun mengambil sastra pada kompetensi khusus berkarya sastra, masih ada opsi untuk menjadi kritikus sastra atau penulis sastra. Sekali lagi, sastrawan bukan profesi. Sama tahu lah, kenapa itu Bang Andrea Hirata, Tere Liye, dll tetap disebut sebagai novelis dan bukan sastrawan. Padahal mereka menulis novel sudah seabrek, berseri-seri, sekianlogi, dan difilmkan juga. Karena gelar sastrawan iku abot, ora mung guyonan.

Kalau tentang para sarjana bekerja di bidang yang nyelewar jauh dari jurusannya, itu mah bukan monopoli prodi sasindo. Kuliah pertanian kerja di bank, kuliah teknik jadi pelawak. Banyak. Klise, kitorang kuliah nyari ilmu bukan nyari kerja. Haha, kita juga sama-sama korban bobroknya sistem pendidikan, kan?


Setiap jurusan perkuliahan pasti bertujuan untuk memecahkan masalah di masyarakat—dan mencetak buruh. Memang banyak masalah di jurusan ini. Mulai dari dosen dramaturgi yang ndak pernah nonton drama, sastrawan acuan yang itu-itu saja, plagiarisme, acc puisi, dll. Menghapuskan atau merendahkan prodi sasindo bukanlah solusi. Sama absurdnya ketika berpikir lebih baik IPDN dibubarkan. Cara barbar tidak akan menyelesaikan. Lha wong yang rusak struktur dan kultur, bukan gedungnya. Kalau gitu mah, runtuhin saja NKRI!

Orang tua sudah sering mempertanyakan masa depan kami yang kuliah di sasindo. Menyarankan segera kerja atau rabi. Itu sudah cukup mengganggu. Kamu sekalian jangan nambah-nambahi! Ngasih makan juga kagak. Apalagi ngechat ngingetin makan, engga pernah. Kamu jahap :(

Jumat, 03 Juni 2016

Yang Ingin Saya Sampaikan kepada Teman-teman

sumber gambar: ingrid.zcubes.com
Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Belakangan ini saya sering geleng-geleng dan berdecak-decak sendiri ketika berselancar di media sosial, lebih tepatnya di akun kawan-kawan seperjuangan dulu. Beberapa gelengan karena kagum, lebih banyak lagi dikarenakan terheran-heran. Beberapa decakan karena memuji, sisanya adalah kekhawatiran.


Tindakan tersebut adalah reflek yang saya lakukan ketika mendapati foto, informasi, maupun status kalian yang hampir semuanya menunjukkan bahwa kalian telah berubah. Tentu, tentu saja tidak sedikit yang berubah ke arah yang lebih positif. Saya ndak nggumun dengan itu, karena memang setiap manusia itu unik dengan kecerdasan dan keahliannya masing-masing. Dulu pun saya sudah melihat bibit-bibit unggul pada diri kalian. Saya melihat seorang akuntan dan menteri keuangan pada diri teman yang sering menjadi bendahara kelas. Saya melihat orator ulung pada diri teman yang selalu menjadi ketua. Saya melihat W.S. Rendra pada diri kawan yang pandai main teater dan berpuisi. Saya melihat masa muda Buya Hamka pada diri kawan yang tak pernah lelah berdakwah dengan cara yang tak terduga. Saya melihat banyak tokoh, banyak sekali. Saat itu juga saya merasa optimis dengan Indonesia, karena ada kalian. 

Tapi, Kawan, beberapa dari kalian tidak sedikit pula yang perubahannya mengarah ke arah lain, bukan murni negatif, hanya saja agak nganu. Oke, mungkin saya yang terlalu sentimentil dan munafik. Berharap terlalu besar dan tidak melihat ke cermin. Tapi, bukannya setiap orang perlu pandangan orang lain sebagai sarana refleksi dan instropeksi? Cermin tidak melulu cermin yang menampakkan rupa dan penampakan, yang ada nanti kita malah dandan. Atau mungkin justru bukan kalian yang berubah, tapi pemikiran saya sendiri yang telah berbeda dalam memandang sesuatu. Sehingga, banyak dari kalian yang menuding saya telah berubah, aku bukan Romana yang dulu, eaaa. Ah, apapun itu, saya pengin menyampaikan ini.

Saya tidak membenci ormas Islam tertentu, saya juga pasti tidak setuju jika anggota ormas tersebut harus diusir, diasingkan, atau dimusnahkan. Saya tidak membenci mutlak orang-orangnya, hanya tidak setuju dengan pemikirannya. Lalu beberapa dari kalian kini telah berubah menjadi seorang fundamentalis dan berkoar-koar menyuarakan apa yang rombongan itu biasa suarakan. Jika saja bisa berjumpa, saya ingin sekali bertanya apa-apa yang menyebabkan kalian begini, sambil minum kopi. Kalian jadi mudah mengkafirkan, memurtadkan, bahkan memutus pertemanan karena menganggap saya liberal. Tadi juga saya lihat salah satu dari kalian memposting meme yang menyamakan perempuan dengan ayam kemudian manusia dengan babi. Bahwa paha ayam lebih dihargai daripada paha perempuan yang tidak menutup aurat. Bahwa babi itu haram, tapi pacaran lebih haram. Intinya, saya melihat ketidakhumanisan. Setahu saya, orang yang semakin beragama justru akan semakin humanis, but what's wrong with you guys?

Begini, masalah menutup aurat, kita sebagai umat Islam tahu itu wajib. Saya muslim, mengaku sebagai muslim, dan semoga masih diterima sebagai muslim oleh Allah. Yang saya tahu dan saya yakini, Islam tidak memaksa. Menutup aurat ataupun tidak, itu urusan personal. Kalaupun ingin berdakwah mengajak menutup aurat, ya silakan dengan  cara yang lebih manusiawi dan tidak konyol. Konyol yang saya maksud adalah dengan menunggangi akhirat, seolah kalian sudah punya kavling dan kunci surga. Kawanku Sayang, lebih dari itu, memangnya tidak ada permasalahan lain yang lebih urgent untuk diurusi daripada menyinyiri penampilan seseorang sambil menepuk dada seolah paling alim sendiri? Jangan mudah terpukau dengan penampilan dan juga jangan mengukur keimanan berdasarkan apa yang nampak dari atribut-atribut. Islam ndak hanya soal atribut, lebih dalam dan beresensi daripada itu.

Jujur, saya pernah menjadi fanatik seperti kalian. Ketika awal-awal berjilbab dulu, saya yang ingin belajar Islam lebih dalam akhirnya terjerumus dengan pemikiran orang-orang fundamentalis. Saya mengaminkan cita-cita mendirikan khilafah walaupun saya tidak paham bagaimana sistem ekonomi, distribusi, pemerintahan, pendidikan, pemilihan, dan segala hal yang seharusnya dijelaskan oleh orang-orang yang memperjuangkannya. Saya agak mengangguk dengan pendapat seorang ustadz junjungan mereka yang mengatakan bahwa selfie itu haram, perempuan harus di ranah domestik, demokrasi itu haram, dan menolak segala hal berbau Barat. Saya sering menulis status yang waktu itu saya anggap sebagai dakwah. Isi status-status tersebut berkisar ancaman masuk neraka, mengajak berjilbab, mengajak untuk tidak pacaran, dan, yah, semua itu dibarengi dengan anggapan bahwa diri sendiri adalah orang paling suci. Saya memandang orang bukan lagi sebagai sesama manusia atau sesama muslim, tapi yang ada di kepala saya hanyalah "I'm holier than thou", "Dia kafir", "Pasti wahabi", "Antek Yahudi", dll. Jika mengingat itu, sungguh saya menyesal dan jijik dengan diri sendiri.

Teman, pemikiran saya kemudian terbuka karena berdiskusi, banyak mendengar, serta membaca buku-buku dan tulisan lain yang mengkritik apa yang saya yakini. Jadi, saya memberanikan diri menghadapi kritik kemudian menimbang-nimbang sesuai nurani dan akal sehat. Akan lebih baik jika sebelum memutuskan untuk membenci atau mengkuduskan sesuatu, kita tahu benar apa yang kita benci atau agungkan. Jika saat ini anti atau pro terhadap sesuatu, coba ambil napas dan selesaikan dulu definisi apa pengertian, konsep, dan sejarahnya. Baru setelah itu silakan gunakan rasio dan nurani untuk memutuskan keberpihakan. Dengan akal dan nurani ya, bukan dengan ambisi kebencian. Berpikir dan merenung adalah salah satu cara mensyukuri anugerah Allah, kan? Sudah banyak kejahatan kemanusiaan yang terjadi karena kebencian dan kedunguan, semoga kita tidak melanjutkannya. Mungkin kalian masih tak habis pikir dengan pemikiran saya saat ini. Tapi, jawab pertanyaan saya, sebenarnya apa yang sedang kalian perjuangkan?

Untuk kawan-kawan lain yang kemarin saya lihat mengunggah foto yang berhubungan dengan keadaan kalian sekarang, saya bahagia melihat pencapaian kalian semua. Kalian hebat. Ada yang memakai seragam polisi, menjadi TNI, mahasiswa, bekerja, magang, membuka usaha sendiri, bertani, mengajar siswa SD, dan masih banyak lagi. Semoga kalian semua sukses dengan sepenuh pengabdian. Saat ini saya masih melihat kalian sebagai teman sepermainan, SD, SMP, ataupun teman SMA yang dulu saya kenal baik, menyenangkan, ramah. Teman-teman yang tidak mungkin tega mengambil uang rakyat untuk perut sendiri. Teman-teman yang tidak mungkin sudi menerima suap. Teman yang tidak akan berteriak-teriak mendukung penggusuran minoritas ataupun kaum marjinal. Teman yang masih punya nurani, bukan hanya ambisi mendapatkan posisi. Teman yang tidak akan menginjak manusia lain demi membeli sebuah gengsi. Teman-teman yang tidak mungkin menjadi seperti orang-orang yang saat ini kita kutuki, kritik, dan sayangkan kinerjanya. Teman-teman yang masih manusia.

Sayangnya, kita tidak bisa membaca masa depan. Dan sekali lagi, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Pemikiran baik tentang pribadi kalian saya dapat karena berteman ketika kalian belum memiliki kekuasaan. Tapi di masa depan, giliran kita-kita yang memegang tongkat estafet, kekuasaan akan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.  
Kekuasaan, Sayangku, lebih memabukkan daripada miras oplosan atau rayuan seorang bribikan yang manis. Kekuasaan lebih enak untuk disalahgunakan daripada digunakan untuk membenarkan yang salah. Dengan kekuasaan, manusia bisa menjadi lupa akan kemanusiaannya.
Saya khawatir kita akan menjadi sama dengan orang-orang yang kita kritik saat ini. Kalau begitu terus siklusnya, sepertinya memang lebih baik mati muda saja. Kalau sampai kalian menjadi seperti itu, saya tidak segan-segan meminggirkan memori masa lalu untuk kemudian mengkritik dan berdiri membela orang-orang yang kalian curi haknya. Temanku, Calon Polisi, nanti jangan sampai menilang dengan ilegal lalu masuk kantong sendiri dan menggerebek diskusi, kalau tidak ingat dosa coba ingat tanggung jawab. Temanku, Calon TNI, nanti jangan sweeping-sweeping buku kiri atau coba-coba masuk ke ranah politik. Temanku, Calon Guru, jangan lupakan tugasmu untuk mendidik dan semboyannya Ki Hajar Dewantara, masa depan penerus peradaban ada di tangan kalian. Temanku, semuanya, di manapun, kapanpun, dan menjadi apapun kalian nantinya, tetaplah menjadi manusia yang sesungguhnya. Saya tidak ingin suatu saat nanti mengatakan, "Dulu dia teman saya, saya rindu teman saya yang dulu.". Tetaplah jadi teman saya yang asik, silakan berkembang dengan dinamis di mana kalian punya prinsip dan tujuan, tapi jangan menjadi labil karena ambisi menguasai. Kekuasaan harus digunakan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, karena dia adalah amanah.

Bangsa kita memanglah menjunjung tinggi kekeluargaan dan persaudaraan. Tapi tidak ada nepotisme di antara kita. Saya berharap kalian tetap menjadi profesional dengan profesi kalian nantinya. Jika saya memang melakukan pelanggaran atau kejahatan, silakan laksanakan tugasmu, abaikan bahwa saya adalah kawan SMA. Pun sebaliknya. Lalu setelah itu semua, kita ngeteh bersama.

Maaf jika saya terkesan sentimentil, cinta tanah air, dan sok bermoral. Zaman sekarang memang aneh. Orang seperti menolak kenyataan bahwa perasaan adalah bagian tak terpisahkan dari diri manusia. Haha, bahkan cinta yang jelas sudah sakral sampai perlu ditekankan lagi dengan istilah "cinta sejati".

Sekian, mari berjuang bersama, tidak harus di jalan yang sama tapi kita akan berjumpa karena tujuan yang sama. Sampai jumpa, entah kapan...

Dan, oh ya, maafkan temanmu ini yang selalu lupa ulang tahun kalian :(



Rabu, 01 Juni 2016

Surat Rahasia untuk Diriku 5 Tahun Mendatang


picture source: www.tutorial-webdesign.com

Yang Terhormat, Diriku Sendiri di 5 tahun mendatang...

Ah, aku tidak tahu bagaimana harus membuka surat ini. Setahuku kau tidak suka basa-basi dengan pertanyaan seputar "apa kabar" atau "sedang apa". Tapi entahlah, siapa tahu kau sudah berubah menjadi lebih ramah kan? Diriku, sehari sebelum menulis surat ini, aku baru saja membenci seorang teman karena dia bisa update status berkali-kali tapi tak sedetikpun sempat membalas pesanku. Dan, oh ya, dua jam sebelum menulis surat ini, aku sudah beberapa kali mengumpat. Mengumpati kesalahan orang lain, dan sesekali menertawakan kedunguan orang lain. Jadi, Diriku, kamu apa kabar? Setelah mengembara selama lima tahun, masihkah kau labil dengan keangkuhan atau sudah lebih dewasa dan bijak dalam bersikap?

Diriku, kau tahu bahwa aku sering menulis surat. Tentu saja. Bukan hal baru bagi kita. Tapi asal kau tahu, surat kali ini berbeda. Aku menulis surat tanpa meminta dibalas, hanya minta dibaca dan syukur kalau direnungkan. Itupun kalau Tuhan belum bosan melihatmu di dunia, karena aku tidak tahu apa si penerima surat ini masih hidup atau sudah meninggal nantinya. Dalam Catatan Seorang Demonstran, Gie menulis, "Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua". Aku tidak mengaminkan, karena aku ingin hidup sejuta tahun lagi. Aku suka tantangan, hidup di dunia penuh goncangan, tentu surga akan sangat membosankan. Bagaimana denganmu? Hei jangan tertawa begitu, begini-begini aku adalah masa lalumu. Kalau sekarang kau siap mati kapan saja, berarti lima tahun ini kau sudah mengalami berbagai hal hebat hingga merasa sudah cukup berpetualangnya. Haha.

Bicara tentang berpetualang, apa kita masih sama? Aku telah membuat kesepakatan dengan masa lalu kita, bahwa berpetualang adalah nama lain dari berjuang. Memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, kebenaran, dan nasib. Nasib itu paling realistis, nasib perut sendiri, ya kan? Dasar memang aku munafik, membopong kata-kata heroik sana-sini, tapi sedikit bertindak.
Kau seharusnya masih sama dalam memaknai petualangan, namun sudah berbeda dalam realisasi. Lima tahun! Lima tahun berlalu dan jika kau masih saja ogah keluar kamar untuk mengimbangi kata-kata dengan tindakan nyata, lebih baik mati saja! Aku setuju dengan Gie dalam konteks ini. Hidup yang sia-sia jauh lebih mengerikan daripada mati sia-sia.



source: www.stihi.ru

Hidup bagiku adalah perjuangan. Tentang apa yang diperjuangkan, semua manusia akan menentukan sendiri sesuai nalurinya. Terdengar konyol? Mungkin bagimu aku hanyalah seorang mahasiswa yang latah akan perjuangan. Seseorang dengan jiwa muda yang sedang menggelora, tanpa pernah dihadapkan pada masalah realistis seperti gajian dan tanggungan per bulan. Lho, jangan lupa, aku juga berkutat dengan masalah uang bulanan, bayar kos, dan tahu sendirilah bagaimana pola makan. Mungkin kau sekarang menghadapi masalah pribadi yang lebih rumit. Tapi jangan sampai lupa, bahwa hidup bukan hanya tentangmu, hidup adalah tentang kita semua. Karena masalah kemanusiaan dan keadilan masih terus berjalan, entah lima tahun mendatang, atau sampai kapan, maka perjuangan harus dilanjutkan. Masih manusia, kan? Kalau sampai kau kehilangan rasa kemanusiaan, saat ini juga aku mengutukmu menjadi centong nasi. Setidaknya lebih berguna.

Oh ya, Diriku, apa target-targetku sudah tercapai olehmu? Kalau kau sekarang kaya, terkenal, dan terpandang, jangan lupa bahwa itu bukan tujuanku. Itu hanya sarana mencapai tujuan. Kalau masih kere dan tidak terkenal, sudah kudoakan dengan "Yang Terhormat" di awal surat. Aku menghormatimu, bukan dari materi, tapi hati yang semoga masih bergetar melihat kemanusiaan diinjak.

Hmm, sebenarnya aku penasaran sekali ingin bertanya, apa kau sudah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Apakah seindah seperti yang para pujangga bilang? Siapa laki-laki yang sial telah mencintaimu? Saat menulis ini, aku masih percaya bahwa jatuh cinta adalah sebuah kekonyolan yang payah. Jika kau sudah berdamai dengan cinta, coba ditelaah lagi.


Hormat saya,

Dirimu 5 tahun lalu